Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan

Kamis, 03 April 2014

#ProyekMenulis



Blog post ini dibuat dalam rangka mengikuti Proyek Menulis Letters of Happiness: Share your happiness with The Bay Bali & Get discovered!



35%


Kalau aku menyalakan korek gas di tangkup mulut, kujamin api bakal menyembur liar. Naga api, punya segudang prinsip untuk dipertahankan. Duduk di pasir basah leyot memelototi sunrise. Langit pudar dengan lapisan. Dari yang paling jauh di hulu cakrawala: jingga, kuning, hijau, abu-abu, dan hitam. Berlapis, difilter pucat subuh yang masih muda. Layer Rainbow Cake. Histeria sementara. Bahagia seharga Rupiah.

          Perspektif.

Aku menggenggam Bacardi Superior 35% alkohol. Di tangan kanan, aku menyulut Malboro. Kujauhkan nyala api dari bibir. Just in case. Tapak tanganku berpasir becek. Begitu pula kerutan siku. Sela-sela jejari kaki digelembungi pasir basah. Wajah dan spike rambutku yang tadinya keras, sekarang luyu dihajar angin laut semeraut.

 Kebahagiaan.

Dua Sejoli di arah jam 4 sana, saling mengunci, merangkul pinggul. Berdiri intim di bibir pantai. Kaki-kaki mereka menikam air laut jinak setinggi betis. German Shepherd mereka riang menyalak kering ke cakrawala, berenang lincah. Mereka melihat sunrise sebagai kebahagiaan yang gampang dibeli. Tepatnya berharga dua juta semalam. Sementara aku, melihat hiasan subuh ini sebagai rutinitas bumi jutaan tahun. Visiku buram. Kepalaku berayun, disorientasi gravitasi. Udara yang kuhirup adalah alkohol dari lubang hidungku yang terkepul pasir.

Aku menonjolkan kelingking. Cincin perak Diamond Framed Bridal Zales melingkar kencang. Sepuluh juta. Yang harusnya kusematkan ke calon tunanganku, Emily. Dia juga yang mensugestiku untuk menyedot tabungan, di hari ulang tahunnya ke-26.

Sekat mata ber-softlens hijaunya menyala saat aku menampakkan kue Little Mountain of Happiness. Tumpukan glukosa penyebab Diabetes. Berlapis dari atas: Stroberi-Blackberry-Ceri berserbuk gula, krim kocok, brownies, krim kocok, dan brownies lagi. 100 gram lebih porsi gula. Bom waktu. Aku bilang ke Emily, “Make a wish.”

Dia memanggut lugu, “Udah.” Seraya menunjukkan punggung tangan, melipat semua jemari kecuali jari manis.

Kutangkap maksudnya. Wanita mengidamkan itu. Dongeng klise Putri Anggun menanti Pangeran Tampan. Wajahku serasa digampar dengan tangan lentik ber-nail art pink polkadotnya. Nail art karya Nail Hard. Bibir molek mengkilap ber-lip gloss-nya menggeronyot menunggu balasanku. Ia menelan senyum sepat.

“Mungkin,” ucapku.

Alis tipis berenggang jauh miliknya itu jatuh merendah. Philtrum-nya mengencang, seiring gerinyut mulut. Aku benci wajah itu. Emily santai saja bilang, “Inget, apa aja yang udah gua kasih ke kamu lima tahun belakangan.”

Benar dan berlebihan.

Kalau yang dia maksud Range Rover Evoque, dia salah. Aku inilah yang melunasi Evoque Special Edition Victoria Beckham itu. Kalau yang dia bilang memberikan tubuhnya, ada benarnya juga. Apa pula maksudnya? Dia mau minta bayar atas pelayanannya selama ini? Aku menumpuk penyakit seperti kue Little Mountain of Happiness. Aku pun membeli cincin itu. Dia belum puas. Emily paling bisa melumatku dengan sugesti arogannya.

“Bawa gue ke tempat kita pertama ketemu.”

Aku mengangkat satu tenggakan penuh Bacardi. Isi botol bening itu tinggal separuh, kusesap sedari tengah malam. Hempasan pudar berdenyut. Malboro merah kusedot dalam, meruncingkan baranya. Titik api mencuil pipiku.

Aku angkut Ratu-ku ke The Bay Bali. Melampiaskan kemauannya. Aku menggotong satu tas Eiger Multi Purpose, dia bawa Satu Koper Polo klasik bersama Marc Jacobs Quilted Eyelets Gotham dan dompet Long Flat Pochette. Tentu tak lupa gaun mahal bermacam merek antah berantah. Kami lepas landas dari Jakarta gerah ke Bali berkeringat dan sampai di The Bay Bali Nusa Dua. Aku ingin hidup penuh rencana seperti tempat pelesiran ini. Pebisnis dan consumer, rantai merantai membentuk jejaring.

Perspektif kebahagiaan.

Aku bertukar pandang dengan Emily pertama kali di pantai ini. Lokasi yang sama dimana aku duduk, menenteng Bacardi dan Malboro saat ini. Dua Sejoli itu saling mengecup, si wanita merangkul mesra pundak si pria bertubuh atletis. Pria itu mengunci pinggul ramping kekasihnya. Tangannya korup, turun hingga ke pantat tepos. Tentu wanita itu tak keberatan. Libido mengacau logika. German Shepherd mengucak air asin, menggeliat, mengejar ekor. Buih-buih pecah, berayun lamban, mencium, dan mencoba menghisap kaki becekku.

Sesapan Bacardi lagi.

Sudut dunia ini punya segalanya. Toserba. Kulnier berbagai benua, opera dengan peforma western 60-an, festival budaya berbudi luhur, alkohol cukai tinggi, Dinner-Gathering Foodgasm tepi pantai, musik selera adat, dan party dijamu DJ kelas kakap. Inilah ketika Tragedi Bintaro ambil bagian. Tradisi lokal menubruk modern-hedonis. Dunia Sci-Fi era Dystopian, manusia baru pasca perang dingin, resesi global, dan menanti ambang Perang Dunia Ketiga.

Pasca check in di Apartemen Bay Bali selama dua malam, kebahagiaan sesaat menyapa kami. Kemewahan seharga empat juta per malam. Perfect spot. Menghadap ke laut, bersimbah langit biru siang telanjang tak ber-awan. Ranjang ukuran California King berkiblat sama, dihibur TV flat HD 1080 pixel dengan 200+ saluran dan satu saluran internal.

Aku berbaring di atas kasur berlapis comforter Martha Stewart, seraya meremas remote universal. Sementara Emily berdiri di balkon mengincar view, mencecar sudut selfie, update Path dan Twitter. Meliuk girang, cekikikan, mengenakan tank top ungu bertungkup dada kecil, dan hot pant pink. Kulit tan palsunya berkeringat, berupaya mendapatkan tan line agar terlihat atraktif di mata biru penjajah. Agenda tersembunyi.

Jual diri.

Aku tak minat memeriksa tan line Emily. Aku mengubah saluran, menjadi siaran internal The Bay Bali. Share your happiness with The Bay Bali and get discovered!

Kalimat yang menjelaskan semua.

Aku melirik montoknya bokong Emily yang menungging di pagar besi balkon, merenggangkan tubuhnya. Badannya masih langsing. Aku tak percaya dengan permukaan kulit eksotis itu. Wajah orientalnya berbohong dengan kulitnya. Emily telah menyembunyikan kehamilannya. Beberapa hari sebelum berangkat, aku menemukan lempengan lemas Pregnancy Digital Test di kotak sampah plastik kamarnya.

Positif.

Aku ini orangnya aman. Satu juta persen itu bukan anakku dan aku tahu siapa yang menghamili Emily. Walau aku mabuk sekarang dan saat berdua dengan Emily, aku tak lupa keamanan. Aku hafal pria laknat ini.

Aku menyeruput Bacardi dan menyalakan sebatang Malboro.

Lidahku panas mencubit atap mulut. Angin masih berhembus berang. Lengan kemeja garis hitam biruku tergulung sebelah kiri saja. Dikerubungi pasir kering. Jeans hitam ketat Levi’s-ku sudah amburadul. Lecek, kumal, dan pasir di seputaran. Pantofel-ku entah di mana aku lempar. Mungkin tengah mengapung di Australia. Tapak jemari kakiku mengkerut. Aku tak acuh. Dua Sejoli saling menarik lengan mereka, mendoyongkan bahu mereka ke belakang. Gasing manusia. Berputar, mengocok permukaan air laut yang dikilau pantulan purnama, ombak ramah menjilati pantai. Tawa garing mereka merangsang German Shepherd berjinjit pejal.

TV resolusi tinggi kumatikan. Aku berayun turun dari ranjang. Dengan masih memakai boxer, aku melipat tangan di dada. Emily memancingku dengan mengigit bibirnya, memandangiku genit, mengamatiku dari bawah pinggang ke ujung rambut spike. Nafsuku sudah pupus.

“Kamu mau ketemu Diego lagi kan?” ucapku.

Seringai genitnya tertahan. Pupil bergerak dari sudut ke sudut. Rambut lurus hasil catokan berayun ditendang angin gerah. “Mau berapa kali kita tuh ngomongin ini?”

Wanita terbodoh yang pernah kutemui. Jelas-jelas dari segala sosial media yang dipunya Putri Kerajaan Khayalan ini, yang namanya Diego itu pasti selalu comment. Boleh saja dia bilang seribu kali kalau Diego si Bule Perancis itu cuman teman. Penpals. Sahabat pena. Lucu kalau dipikir lagi. Emily adalah jagonya memanipulasi tabir. Aku juga menemukan kondom extra large merek Max di laci kamarnya. Padahal dia tahu ukuranku.

“Pokoknya gua gak mau liat Diego di sini.”

Emily merapat, menarik-narik kedua tanganku, mengejangkannya. “Yang! Diego tuh udah tunangan ... Dia kan emang tinggal di Nusa Dua. Gak perlu jealous lah.”

Ia memeluk perut gembulku. Menyandarkan pipinya, sesekali mendongak, melirik malu-malu, berpura-pura mesra. “Kita kan mau seneng-seneng di sini.” Pelukannya semakin kencang, “kamu dah beli kan?”

Cincin saja di kepalanya.

“Bukan kejutan namanya kalau gue cuap-cuap, ngasih tau kamu.”

Emily terkikih nakal. Aku melepas rangkulan berkeringat lengket itu. Deodoran-nya tak banyak kerja. Ia menurunkan kacamata dari jidat, kembali mengumbar panorama dengan foto selfie-nya. Menyebarkan di dunia maya, dada mini atau tan line miliknya.

Aku menyalakan Malboro. Kulirik isi kotak, sisa tiga. Bacardi tinggal seperempat, aku mengangkat tenggakan lagi. Rum bercampur dengan asap Rokok Putih. Berebutan memuaskan saraf. Kebahagiaan semu. Sementara Dua Sejoli ketawa-ketewi seakan petak pantai ini punya mereka. Si Pria meraih frisbee, melempar, dan memperbudak anjingnya untuk mengejar. Anjing itu atletis seperti Bapak semangnya. Melompat terjal hingga dua meter. Cakrawala menarik cahaya remang dari bumi bagian lain. Mentari masih membalam.

Aku dan Emily menyambangi Gathering di pinggir pantai. Kebanyakan ekspatriat. Grup Sosialita Cougar berselulit di paha mereka, menjajal remaja Australia umur belasan. Seperti melihat ibu dan anak. Kumpulan gadis dua puluh tahunan berambut pirang begitu tertarik dengan pria Brazil berwajah ramah berkulit eksotis, berotot telanjang dada. Pria-pria gendut berwajah nerd mengambil keuntungannya sebagai kulit putih, menarik talenta domestik yang lugu. Sementara pria-pria lokal gambling dengan para gadis rambut merah dan coklat, menggunakan budaya, tembang, dan atraksi telan api. Tidak ada yang murung dari rupa-rupa itu.

Sementara aku dengan beban ini.

Asap wangi ikan bakar menantang hidung. Mendesis gurih gorengan ikan gurame sambal balado. Sambal bawang menghajar ekspatriat, kepala mereka memerah masif. Angin malam berayun mengibas rambut lurus Emily. Tank top-nya mengumbar tan line. Terus menerus melongok, memerhatikan Bule, melempar senyum setiap dua meter. Wewangian bunga Violet Miss Dior Cherie menganga, menyengit udara.

Jual diri.

Emily mengajakku duduk di meja kayu bundar. Aku malas membukakan kursi untuknya. Duduk manis seketika di kursi kayu lipat dengan sandaran miring. Sela-sela lebar kursi menjepit lipatan bahuku. Aku termangu menanti ulah Emily, duduk bungkam, menghirup asap bakaran. Emily dan agenda tersembunyi.

“Nungguin Diego dulu,” ucapnya.

Di saku kemejaku, tersembunyi cincin proposal kawin. Meringkuk dalam gelap dengan kilaunya, bersama serpihan tembakau Malboro. Senjata rahasia. Siap mengungkap takdir dan tabir. Apakah wanita eksotis karbitan ini bakal mendampingiku di pelaminan nanti?

Diego muncul menggandeng wanita mungil berkulit gelap.

Si Bule duduk di sebelah Emily, pacarnya menyanding sebelah kananku. Swinger. Diego menyapaku dengan senyum dibuat-buat dan suara robot menirukan logat lokal. Aku membalas dengan menaikkan alis. Pacarnya cengengesan, bedak tebal di wajahnya mendempul kulit asli. Memakai tank top hitam ketat tak bertali, mengumbar dada montok.

Aku mencucup Bacardi lagi.

Angin keluar dari perut dan mulut, bercampur sendawa alkohol. Mukaku kering dihajar angin dingin. Leher pegal nyaris tumbang. Pandangan merabun, berdenyut-denyut menggoyang visi. Tirai cakrawala mulai terbuka, menonjolkan sinar jingga lancip. Dua Sejoli merekam detik kelahiran hari dengan smartphone entah Iphone entah Samsung Galaxy. German Shepherd bersemangat melaju di depanku merejang ombak halus, menciduk frisbee dari lapisan air. Aku baru tahu kalau frisbee itu berwarna kuning. Disorientasi warna.

Gurita garing goreng terpampang di atas piring. Apakah sajian ini bakal balik melahapku? Tentakel crispy kaku, kepala melendung keras, dihidangkan dengan sambal kecap, dan garnish brokoli. Mereka bertiga memesan es jeruk, aku pilih teh hangat. Minuman rakyat harga konglomerat. Si Diego membuka mulutnya.

“Ketanya kelian mou nikah?”

Mulut berat robot. Kepalanya gundul, menggeliatkan selangkangan wanita lokal. Bintik-bintik flek coklat terpencar di rupanya. Tumpukan bintik itu lebih padat di bawah leher. Kancing kemejanya terbuka dua, mengobarkan lautan bulu macho. Aku sungkan menjawab ucapannya, tentu Emily lebih proaktif.

“Segera.”

Aku lapar berat. Tak ragu, aku menggeramus hidangan laut berbau sengit itu. Home Band menghardikku dengan lagu cinta. How Deep is Your Love? versi akustik. Band menghibur di atas panggung modern minimalis, dinaungi tiang lampu panggung warna warni. Gitaris memanipulasi gitar elektrik Fender Stratocaster 1958 bersuara akustik dengan Boss AC-3 Acoustic Simulator. Non-natural. Palsu. Aku harap tiang lampu itu tumbang menghantam kepala gitaris. Lima menit saja aku selesai membereskan si gurita.

Emily sibuk mengobral obrol dengan Diego ini. Nyaman, gatal, tertawa di setiap joke najis murahan yang dilontar Diego. Aku menyetop keharmonisan mereka, memanggil Emily dari dunia lainnya.

“Yuk cabut.”

Emily serba enggan. Si Bule melongok, bertanya-tanya. “Mau ke mana?”

“Balik ke kamar.”

Diego menatap Emily. “Ke hati aku aja.”

Emily cekikikan. Ingin aku ludahi wajah keduanya. Namun, aku tak mau mengumpat kedamaian akulturasi budaya di sekelilingku. Bertingkah bodoh, berakhir seperti gurita malang. Emily menggelengkan kepala. “Tar aja abis party. Masa kita tiduran di kamar aja, malah gak dateng ke puncak acaranya.”

Tak punya pilihan, aku manut saja. Tengah malam, pesta liar digelar. Di pinggir pantai, puluhan turis lokal dan luar bergumul menjadi gumpalan manusia. Pria bertelanjang dada, wanita bertelanjang budaya. DJ asing menghipnotis dengan loop ekstra degupan bass, mempercepat Lazy Song Bruno Mars jadi tempo tinggi. Riuh gempita turis berkecamuk, mengangkat gelas bir. Aku di tengah lautan keringat, enggan bersanding dengan pacarnya Diego. Emily malah meliuk gatal dipunggungi dada bidang Diego.

Jual diri.

Long Pause musik disko memperlambat tempo. Dentungan bass melambat, memberikan tanda bagi pecandu pesta agar bersiap dengan letupan dinamit bahagia selanjutnya. Degupan bass merambat cepat. Menghentak adrenalin. Lampu-lampu panggung berlarian mengumbar sinar. Wanita-wanita pirang berjoget luyu, mabuk berat, pasrah digerayangi pasangan. Emily menyesap empat gelas bir Heineken. Teritoriku dijajah Diego. Si Bule dengan nikmatnya berdansa-dansi membelai tubuh mungil pacarku. Pacarnya Diego enggan melirikku, lebih girang dengan kulit putih.

Disko meledak. Tempo tinggi menghajar tetamu. Lautan keringat melompat semangat, semakin lama makin bergairah. Teriakan merong-rong udara. Emily lepas kendali, ia mengecup dada Diego, pindah ke bibir. Diego jelas tak keberatan. Aku merapat, mengambil, menarik lengan kurus Emily. Kecupan terlepas. Keduanya melongok lugu.

C’mon man!” ucap Diego.

Aku menunjuk kepala botaknya. “Punya lo masih ada!”

Diego menyeringai mabuk, pipinya merah. Aku menarik tangan Emily, tubuhnya tertarik menyelinap dari himpitan pecandu pesta.

Emily tertawa. “Lo tuh ngapain? ... Udah ... lo cari juga cewek laen. Gak papa kok ... buat malem ini aja!” Ia kembali cekikikan, bergoyang lembut mengundangku berdansa.

“Lo gak inget kenapa lo ngajak gue ke sini!”

Emily melengos. “Ampun DJ!!” teriaknya ke langit.

Aku mengangkat ketiaknya, menarik kulit berkeringat, menyusur menyempilkan tubuh, melalui lautan manusia. Aku berhasil meretas kerumunan itu, membawanya menjauhi pesta pora, menuju pinggir pantai. Tubuhku berkeringat deras, lengan-lengan kemeja kugulung. Angin deras menerjang rambut kami. Seputaran kami senyap. Para turis semuanya berkumpul di pesta. Emily terkikih terus. Mabuk berat, langkahnya lunglai. Aku harus menahan bahu depannya. Lengan kananku mengambil cincin dari saku kemeja dan menampakkan cincin mahal itu.

Emily terkikik, mengerutkan kelopak mata, menatapku. “Bentar ... bentar ... pasti ‘will you marry me’ kan?”

Aku berdecih membuang muka. Tanganku tergabas mencobloskan cincin di jari manis lenitknya. Ia menolak, menyimpan tangan.

Emily menyeringai berwajah mengejek. “Lo dah sinting ya? Emang gue mau nikah ma lo?”

Kepalaku ingin meledak mendengar itu. Habis-habisan aku dihajarnya hari ini. Dia yang mengajakku ke The Bay Bali yang spektakuler ini, dia yang mengusirku. Tapak tanganku memeganggi wajahnya. Aku berbisik pelan. “Kamu tuh cinta gak ma aku?”

Ia mengangguk.

“Trus, mau gak nikah ma aku?”

Ia tertawa dan mengusapi perutnya. “Aku hamil.” Wajah kocaknya menguap, merambat menjadi murung. Alisnya merendah dalam, matanya mengerling berkaca. “Diego.”

Aku menghela nafas dalam. Tinju kerasku menghantam pipinya, kepalanya terjengkang ke samping. Tubuhnya tumbang terlentang. Lengan kanan kemejaku melorot. Aku mengangkangi tubuh mungilnya yang terbaring lemas. Aku mencekik lehernya. Leher itu mengejang. Teriakannya tertahan di tenggorokan. Decakan dahak tersekat. Matanya melotot seakan bakal meloncat. Urat di lehernya menebal, wajahnya memerah. Nafas dari hidungnya semaput, terserak-serak memaksa meminta udara. Kesupan nafas perlahan memelan. Perut kembang kempis lamban. Aku menekan lebih kuat.

“Inikan yang kamu mau?”

Kebahagiaan yang aku mau. Menghindari kenyataan pelik. Emily tewas di tanganku, mati di tempat dimana kami pertama bertemu. Aku meninggalkan tubuhnya tergolek, menuju bar di pesta liar. Membeli sebotol Bacardi Superior dan sebungkus Malboro.

Perspektif.

German Shepherd menolak mengejar frisbee yang dilempar Dua Sejoli. Anjing itu menggong-gong ke arahku. Ia merapat kencang, injankan empat kaki sibuknya mengersik pasir leyot. Garis cakrawala menebal. Sinar jingga terbit juga, memberi permukaan air pantulan lembut, berbintik-bintik kilauan jernih. Angin tetap ganas. German Shepherd mendekatiku menyalak garang di dekat kuping. Aku bangkit menggondol Bacardi dan menyalakan satu batang terakhir Malboro-ku. Aku meninggalkan si Anjing. Ia sibuk memutari bekas pantatku yang telah duduk berjam-jam.

Aku mendekati garis pantai. Menjajal air asin dingin. Aku menjangkah berat, perlahan air sudah separuh badan. Rokokku basah kuyup.

Satu tenggakan terakhir Bacardi 35% alkohol melengkapi kebahagiaan ambigu.

Aku melempar botol kosong Bacardi ke depan jauh. Menyaksikan sunrise dengan perspektif berpendar dan visi memudar. Aku menghirup dalam-dalam udara murni pantai The Bay Bali ini. Tempat dimana aku dan Emily bertemu juga berpisah. Aku teringat saluran internal di apartemen dan aku melompat masuk ke bawah air. Aku yakin tak lama lagi German Shepherd dengan endusan tajamnya, bakal menemukan bangkai Emily yang terkubur satu meter setengah. 

         Share your happiness with The Bay Bali and get discovered! Kata mereka.

 
****




Senin, 03 Februari 2014

Mia


Match Made in Heaven, salah. Match Made in Bullshit. Lebih cocok menjelaskan kemauanku. Tidak ada itu istilahnya cinta tak harus memiliki. Cinta harus memiliki. Mutlak tak terbantahkan. Aku cinta orang tuaku sendiri dan aku harus memiliki mereka. 

Trans Backpack Aquamarine JanSport, 260.000 Rupiah. Cinta pada pandangan pertama. Sleeping Beauty. Haruskah menyumbangkannya ke Panti Asuhan?

Katch Slip On Trainers Darkslategray, 1.360.000 Rupiah. Dibuat untuk telapak kakiku. Cinderella. Haruskah membuangnya di box sampah non-organik?

Bagaimana pun caranya, aku harus memiliki cinta itu. Apa aku egois? Not really.

Gadis populer di SMA. Mata-mata menguntit jangkahan kakiku. Cowok dan cewek. Aku bisa memilih dengan mudah pacar yang aku sukai dan aku tahu banyak anak cewek yang iri padaku. Setiap aku melangkahkan kaki di koridor kelas, cowok-cowok berjajar duduk di teras kelas memasang senyum terbaik mereka,

“Pagi Mia.”

Seakan aku peduli.

Sementara anak cewek memandangiku sinis. Hostile face. Seolah-olah. Seakan aku ini public enemy.

Kenapa mata-mata sekolah ini memindaiku seolah aku ini Ratu Tebar Pesona. Sensasional. Salahkan orang tuaku kenapa aku diberi wajah dan tubuh seperti ini. Cosmopolitan, GoGirl!, dan teenminutes, salahkan mereka juga. Tidak ada keinginan bagiku menjadi populer. Aku menjalani apa yang harus gadis SMA kebanyakan lakukan. Menjadi diri sendiri. Stay true to yourself!

Semua tampak sempurna? Tidak. Apa aku bahagia? Tidak. Aku punya pacar. Nama pendeknya Pay. Tubuhnya menjulang dengan senyum ciamik Zac Efron. Half-Shaved Edgy Punk dan Macbeth Brighton. Aku sudah bersamanya selama empat bulan, aku hanya tahu style-nya bukan isi batinnya.

Who’s this pretty guy? I’m not that sure.

Kami berdua sering disebut pasangan serasi. Ia tampan dan aku cantik. Robert Pattinson dan Kristen Stewart. Brad Pitt dan Angelina Jolie. Humphrey Bogart and Lauren Bacall. 

Pulang sekolah, Pay dan Kawasaki Ninja-nya menyapaku. Knalpot motornya berderu derung menyingkirkan dedebuan menyambutku. Tidak ada senyum dan tegur-sapa dari Pay. Tak ada pula basa-basi. Hanya CO2. Aku berayun, duduk begitu saja di belakang punggungnya yang berkeringat sembari menarik ujung rokku ke bawah dengkul.

“Hei,” sapaku.

Ia tak menjawab. Ia malah sibuk cuap-cuap dengan teman eskul basketnya. Aku menyapanya untuk ketiga kali, kuping Pay baru merespon, “Oh hei Beb. Ada apa?”

“Kamu tuh dengerin aku gak?”

“Iyalah.”

“Maksud aku selama ini. Kamu tuh peduli gak sama aku?”

“Ya peduli lah.”

 Selalu jawaban yang sama. Mulutnya berbanding terbalik dengan sikap dan jadwal perhatiannya untukku. Perasaan ini. My deepest fragile heart. Entah bertahan berapa lama solidnya. Dia tampan, pria paling tampan yang pernah aku lihat. Dia baik, dia bahkan memberikan aku satu bundle edisi terbatas foto-foto boy band favoritku, Super Junior, sebagai kado ulang tahun ke 16. Ayah hanya memberi kursus mengemudi gratis, fungsional. Ibu menghadiahi Six-Layer Dark Chocolate Cake, emosional.

Teringat pepatah klasik: cinta tak dapat dibeli dengan materi. You can’t buy moon, you just love it. Aku adalah gadis yang menjalani hidup yang tak seharusnya kujalani dengan Pay.

“Elo cinta gak ma dia?,” kata Linda sahabat baikku sejak kelas sepuluh.

“Gak tau Lin. So complicated. Gue bingung.”

Linda memberikan tatapan murungnya seolah aku ini anak kucing Tabby yang terlantar di pinggir jalan, “Bingung? Lu mesti bersikap. Banyak cowok laen yang suka ma elo.”

“Maksud lo?”

“Ya putusin dia lah, Mia. Mo gimana coba?”

Menarik. Aku tidak bahagia dan aku sangsi apa aku benar-benar mencintai Pay. Namun, Pay menjanjikan kenyamanan dan kestabilan. Aku tidak tahu apa aku akan mendapatkan sosok seperti Pay lagi, “Gue bingung. Pay itu baek, baek banget orangnya.”

“Tapi dia gak merhatiin lo.”

“Iya, dia gak peduli ma gue tapi Lin—“

“Yaelah. Trus napa lo harus sama cowok yang lebih peduli ma basket daripada ma pacarnya sendiri? That’s stupid.”

Linda benar dan entah apa yang telah aku pikirkan. Aku mendapatkan sesuatu yang tidak aku dapatkan dari Pay yang justru aku dapatkan dari teman satu kelasku, Reza. Pria cupu berkacamata. Nerdy guy. Teror. Belah pinggir dan Fantofel punya Bapaknya.  

Semenjak kesenjangan perasaanku dengan Pay. Pria inilah yang mengisi cerita dalam hari-hariku yang so freaking bored. Awal aku satu kelas dengan Reza, ia sedikit menakutiku. Ia tak pernah melepaskan tatapannya dariku kalau aku melangkah melaluinya. Entah apa arti tatapan itu. Itu tatapan atau imajinasinya. Akan tetapi, Reza adalah siswa yang cerdas berprestasi. Ia selalu ranking satu di kelas dan ranking umum di sekolah. Hands down. Aku akui kalau aku tidak secerdas dirinya.

Kepintaraannya bisa dimanfaatkan. Aku adalah kupu-kupu Bunga Matahari. Ayah dan Ibu tak cuti mengoceh soal rapotku yang menyedihkan itu. Sedikit banyak hubunganku dengan Pay merusak fokus belajar. Aku adalah kupu-kupu Bunga Matahari. Datang dan pergi, menghisap nektar yang bernama ilmu.

Semasa rehat kelas, aku iseng bertanya pada Reza, “Za, kamu pinter banget. Rahasianya apa?”

Jelas ia sumingrah ketika aku yang bertanya, “Oh gak ada Mi. Aku orangnya gampang penasaran. Cuman belajar aja. Itu ajak kok.”

“Oh gitu.”

“Kenapa emang?”

“Gak, nanya doang. Is it wrong?” Aku pun berlalu tak perlu memperpanjang omongan.

Justru berawal dari sanalah kami semakin dekat. Dia mengajariku banyak hal soal Biologi dan Sejarah, dua mata pelajaran non-favoritku. Hafalan adalah Kotak Pandora-ku yang tak berkunci. Selama ini pun juga, aku salah menilai penampilannya. Ia sangat terbuka, menyenangkan dan perhatian. Ya, dia sangat perhatian kepadaku. Taxidermy Framed Butterfly.

Berminggu lamanya aku mengenal Reza. Apapun itu, kami menghabiskan waktu rehat kelas dengan mengacak laptop Macbook Pro-nya, mendengarkan Taylor Swift dan Sigur Ros, bersenandung bersama. Bahkan aku sering mengajaknya ke bioskop menonton film Drama yang mana Pay tidak pernah mau menonton film bergenre melankolis seperti itu. Pay tak adaptif, di lebih suka Super Car Lamborghini Aventador daripada Cinematografi cerahnya cinta.  

Dengan berjalannya waktu, aku semakin terbuka dengan Reza, banyak bercurhat soal pribadi dan privasi.

“Gue ma Pay.”

Reza sudah tahu kalau aku pacaran dengan Pay, aku benar-benar terbuka dengannya. “Gue punya banyak masalah ma dia.”

“Masalah apa? Gua liat kalian baek baek aja tuh.”

“Keliatannya aja, Za. Kayaknya dia lebih seneng nongkrong ma temennya daripada ma gue. Malah gua ma lo lebih sering jalan bareng ketimbang gue ma Pay.”

Oh Reza, perasaan sudah mencemari kalimat yang kuucapkan itu. Dia menanggapi berlebihan, “Harusnya kamu milih.”

“Milih apa maksudnya?”

“Milih Pay apa gua?”

He just doesn’t get it. Dari awal memang aku tidak pernah menginginkan yang lebih dari dia. Aku adalah kupu-kupu Bunga Matahari. Datang dan pergi.

“Gak gitu Za. Gua tuh gak mau...,” kata-kata tersekat, aku tergabas menelan ludah dan berkata lagi, “Kamu itu temen yang baik.”

“Temen?”

“Iya. Gue gak pernah punya temen cowok sebaek kamu.”

Friend-zoned. Reza menelan mentah kalimat itu, lantas melangkah pergi meninggalkanku. Aku hening, tertunduk memerhatikan Hide & Go Chic Nail Art-ku. Aku hanya jujur pada diri sendiri. Reza hanyalah peralihanku dari kenyataan pahit. Reza memberikan segalanya buatku. Aku hanya memanfaatkan kebaikannya. Makhluk apa aku ini? I should be ashamed of myself!

“Ya, Reza bilang ke gue kayak gitu,” ucapku ke Linda saat di kantin sembari menikmati semangkuk bakso.

Linda tergelak tak bisa menahan seringai tawanya, “Reza si cupu itu? Yang bener aja lo.”

“Urghhh ... don’t say that! Penampilannya gituh! Tapi kalo lo udah kenal dia, dia tuh baek banget Lin.”

“Baekan dia pa Pay?”

Aku menyesap es jeruk yang lebih asam dari aromanya itu, “Gak tau.”

“Widih ... Trus lo ma Pay gimana?”

“Gak tau.”

“Lah elo, gak tau mulu. Pulang ini pas dia eskul basket, lo tanyain dia. Cinta gak dia ma elo. Tanyain keras-keras biar diliat temen-temennya, biar lo bisa dapetin jawaban jujurnya. Jawaban Panik.”

“Gak ah. Dia tuh pemalu Lin.”

“Justru itu.”

Dengan saran sahabatku itu, sepulang sekolah aku menyambangi lapangan basket. Anak-anak cowok tengah berjibaku berebutan bola bergantian memasukan ke jaring. Mereka terlihat seksi saat berkeringat. Decitan sepatu kets dan pantulan berat bola menganga ke udara siang yang terik. Aku melenggang tegas ke pinggir lapangan dan berteriak.

“Pay!”

Ia meliahtku seklias, melengos, dan menggiring bola lagi. Bunga di Tepi Jalan. Mengamati, tak Diamati.

“Pay! Ihhh kamu!”

Aku justru merusak fokusnya, ia kehilangan bola dan menatapku dongkol, “Apa sih kamu?”

“Ke sini bentar.”

“Gua lagi maen. Liat gak?”

Pay tak acuh, lantas bermain lagi. Dia memberiku cold shoulder. Aku tak terima itu, menyamakan diriku seperti seonggok pasir atau apalah istilahnya. Aku masuk ke lapangan menarik kaos olahraganya yang basah. Ia menoleh dan melotot, “Apa sih?!”

Teman-temannya terhenti karena gangguanku.

“Kamu cinta gak ma aku?”

Teman-teman Pay memandangi Pay dengan tawa riuh, menyorakki dengan umpatan-umpatan memalukan bernada sarkasme.

Pay mengambil bola dan memantul-mantulkannya, “Gua lagi maen. Tar aja,” ia mengelap keringat dengan lengan kaosnya. “Lanjut bro!”

Jeritan tak tertampung lagi. “Pay! Kamu cinta gak ma aku?!”

Pay mendekat seraya mengatur nafas, menarik kerah kaosnya ke belakang dan menatapku bengar, “Enggak,” ia melempar bola ke wajahku, dengan refleks aku menghalau, menepis bola berat itu.

“Brengsek kamu!”

Fuck it! Air mata sebisa mungkin aku tahan. Aku tak ingin Pay melihatku sebagai wanita lemah nan rapuh yang bisa ia permainkan dengan logika maskulinnya. My deepest fragile heart. Perbuatan Pay itu membuatku mengulangi apa yang sebelumnya aku lakukan. Aku kupu-kupu Bunga Matahari.

Aku datang dan pergi. Tanpa banyak cincong, aku Bbm Reza, mengajaknya bertemu. Kami pun bertukar wajah lagi di sebuah taman bergaya urban dinamis di komplek perumahan Basilica dimana aku tinggal. Aku curahkan segalanya yang aku alami hari ini. Mengalir, ibarat rejangan air tak berujung. Seperti biasa, Reza mau mendengarkan dan mendengarkan. Ia tidak hanya memiliki kedua telinga yang aktif, tetapi juga ia memiliki telinga batin yang bisa mendegarkan perasaanku.

“Udahlah Mi. Gak usah nangis,” bisiknya, “Kita nonton Winter Sonata aja. Udah episode berapa kemarin?”

Aku tersenyum mendengar itu, mataku yang berkaca berganti jadi binaran.

“Episode 5.”

Berdua, kami menonton serial favoritku itu di MacBook Pro-nya. Menit terasa berjalan lambat, langit sore yang merah mengalungi kami dengan cahaya hangatnya yang lembut. Aku selalu merasa istimewa saat menyandarkan kepalaku di pundaknya. He knows how to handle a fragile thing, seperti Baggage Handler.

***

Upacara bendera hari Senin adalah saat-saat terburuk di SMA. Harus bangun pagi, menyiapkan kelengkapan seragam, berbaris, mendegar ceramah dan bernyanyi. Namun, Senin pagi cerah ini serasa berbeda. Aku selalu melemparkan senyum saat Reza menatapku. Aku tidak bisa menafikan keistimewaan itu.

Obviously, aku berdiri di tengah barisan perempuan. Di sebelahku, Linda mengenali raut riangku, “Aduh, ada apa nih?”

Kami pun mengobrol sambil terus menjaga volume suara. Girl Talk.

“Ada deh,” jawabku genit.

“Senyam senyum lo.”

“Gue jatuh cinta.”

Linda tak bereaksi, “Pay?”

“Reza.”

Mata kecil Linda melotot, dahinya mengerut, alisnya menukik. “Lo udah gila? Lo dah putus ma Pay?”

“Belon.”

“Lah terus?”

“Udah ah Lin. Biarin temen kamu nih seneng dikit napa?”

“Bukan gitu—“

OMFG. Siswi di depanku tumbang. Punggungnya roboh mendorongku. Doyong dan luyu. Aku menahan punggung dan merangkul perut gadis ramping itu. Suasana barisan menjadi riuh, pengucapan Janji Pelajar mendadak terhenti. Siswa-siswi yang berbaris mengalihkan pandangannya ke kami.

“Tolong,” pekikku.

Seorang anak PMR cewek yang berjaga, menyerbuku dari belakang barisan. Ia mengangkat kaki siswi pingsan itu, “Mia kan?” kata anak PMR itu.

“Siapa?” kataku.

“Kamu, nama kamu.”

“Iya, Mia.”

“Bantu aku bawa temen kamu ini ke UKS. Kami kurang orang, cuman aku yang jaga hari ini.”

Tak aku tolak permintaan itu. Aku bopong bagian perut siswi itu sementara anak PMR itu mengangkat kaki. Kami membawa siswi itu menuju belakang barisan dan melangkah berat menuju UKS.

Tergabas-gabas, kami akhirnya sampai. Anak PMR itu mendorong pintu UKS dengan bahunya, “Waduh...”

Aku melontarkan tatapan ke dalam UKS yang beraroma minyak kayu putih. Tidak mungkin bagi kami untuk membaringkan temanku ini di sana. Dua ranjang bertingkat itu penuh oleh Siswi yang tampak lemas berbaring dan tampak lunglai, berpura-pura sakit. What a faker...

“Yaudah, bawa ke kelas aja,” ujarku.

Anak PMR itu setuju membawa siswi itu ke kelasku. 12 IPA 1. Kami menapakki lantai keramik yang licin, karet tapak sepatuku berdecit-decit menggesek, menggeret lantai. Siswi yang aku bawa ini lebih berat dari kelihatannya dan semakin berat saat tenagaku mulai musnah. Keringat yang tak aku dapatkan dari senam SKJ setiap Jum’at pagi.

Kami tiba di muka pintu 12 IPA 1. Giliranku mendorong pintu dengan punggung. Kami membaringkannya di atas dua bangku yang dirapatkan. Aku langsung terduduk, kaki-kakiku ruai. Anak PMR itu pamit sebentar, “Mia, kamu jagain dia bentar ya. Aku mo ambil minyak kayu putih dulu.”

That’s perfect. Konyolnya, aku pun menyanggupi. Paling tidak aku tak harus mendengarkan petuah Kepala Sekolah yang narsis. Aku menuju bangkuku untuk mengistirahatkan kaki yang lemas. Aroma Dolce & Gabbana Light Blue berubah menjadi keringat gerah. Kipas AC suhu rendah kalah bersaing.  

Aku meraih bangkuku dan menemukan sesuatu di atas meja, secuil kertas ditindih buku Sejarahku, ujung kertas itu digambar hati. Aku mencomot kertas yang terlipat itu dan membaca isinya. Senyum terkembang alami.

Pulang sekolah jalan yuk –Reza

Tak banyak waktu terbuang, aku langsung balas surat itu dibaliknya. Aku mengangguk-angguk sambil memeriksa lagi kata per kata tulisanku itu hingga aku pastikan tidak ada ejaan yang salah. Menghindari salah persepsi, salah interpretasi, salah imajinasi.

Aku pun menuju bangku Reza di urutan terdepan. Menaruh kertas itu di atas meja, tetapi aku ragu kertas ini akan melayang. Aku memeriksa kolong meja Reza dan mengambil buku kecil di sana.

Saat mengambilnya aku tersentak karena buku kecil itu adalah Diary-nya Reza. The Biggest Secret berada di genggamanku. Aku melempar tatap ke luar kelas. Hening. Jemariku terasa membantah, pertanyaan muncul. Apa reaksiku bila orang asing diam-diam membaca catatan harianku? Aku hilang kendali. Aku adalah Bunga di Tepi Jalan. Mengamati, tak diamati.

Aku membuka Diary itu. Halaman pertama. Profilnya Reza. Aku sudah tahu semua. Tinggi hingga motivasi.

Aku membaliknya lagi. Suasana riuh redup dari kejauhan, menggema ke pelosok koridor-koridor kelas. Aku kembali menatap isi Diary itu. Tulisan dan tulisan. Jepang dan Jepang. Saat melihat halaman yang berjudul ‘MIA’ itu, perasaanku menyelingar. Mataku menyala nanar, jemariku terkunci getar. Aku benar-benar tidak tahu apa yang akan melompat dari balik halaman itu.

Really?

Riuh kerumunan siswa semakin mendekat, waktu terus menipis. Aku membalik halaman, nafasku tersekat, wajahku memucat, hilir mata tertikam dalam. Halaman itu kubalik dan kubalik. Aku tidak tahu apa yang ada di kepalanya Reza.

This is sick!

Tersusun rapi foto-fotoku. Foto-foto itu diambil diam-diam. Candid melangkahi privasi. Creeper! Foto dari Mading, hanya fotoku yang ia ambil dan gunting. Yang paling parah, ia memanipulasi fotonya dengan Photoshop seolah ia sedang memeluk diriku. Yang sangat menjijikan, ia berkreasi, berimajinasi seolah aku rela diciumnya. Baggage Handler adalah Thrower.

Gue tuh selama ini percaya ma lo!

Halaman-halaman kurobek-robek asal, melempar Diary-nya ke lantai, dan menginjak-injak benda najis itu sampai remuk bubuk. Aku berlari keluar kelas. Anak-anak telah meramaikan koridor menuju kelasnya masing-masing. Tubuh rampingku melangkah cepat melawati mereka, menyusupkan badanku. Hingga aku menubruk seseorang.

“Mia, ada apa?” kata Siswa itu sambil memegang pundakku.

Wajah itu menakutiku. Reza. Aku meronta melepaskan rangkulan najisnya, “Aku benci, benci, benci banget ma kamu!” pekikku sekerasnya.

Aku merentak keras bahu lengan Reza, menyingkirkan jalanku. Rautnya terkencar, aku tak acuh. Aku kembali berlari menapakkan injakanku yang berat diiringi riuh siswa-siswi yang bercengkrama di sepanjang koridor kelas.

12 IPS 1. Aku sampai di tujuan. Pay duduk di bangku panjang teras kelas. Aku menatapnya sendu. Aku adalah Bunga di Tepi Jalan. Mengemis minta diamati.

Pay tidak memancarkan reaksi. Ia berdiri dan memelukku, mengusap-usap pundakku, “Ada apa Yang?”

Bibirku bergetar, tangis yang aku tahan darinya, akhirnya aku keluarkan lagi untuknya. Aku tidak ahli dalam menyembunyikan perasaan. Aku tahu aku sudah membuat kesalahan besar dan makin besar lagi, “Re..Reza.”

“Reza? Kenapa dia?”

“Dia ganggu aku.”

“Reza si cupu itu? Ganggu kayak gimana maksud kamu?”

Dengan erangan, aku ceritakan semua yang aku lihat di Diary-nya Reza. Pay memundurkan badan. “Gua hajar tuh cupu.”

Aku menarik, menahan lengan seragamnya, “Pay, jangan sakitin dia. Dia tuh baek.”

Pay bengar, melotot geram meninggalkan aku. Ia melangkau tegap mencari-cari Reza. Aku tak akan membiarkan ini. Ini adalah kesalahanku. Aku tidak boleh mengorbankan seseorang karena keegoisanku. Aku berlari mengejar Pay. Berharap tidak muncul hal yang lebih brutal lagi. Aku melonjak, mengejar Pay.

Seragam Pay berhasil aku raih. Aku menarik dan menjerit menghentikannya. Siswa-siswi di sepanjang koridor itu memandangi kami, termasuk siswa-siswi yang di koridor seberang yang dipisah taman. Namun, tarikanku tidak memandekkan langkah Pay yang perkasa. Semua sudah terlambat. Aku melangkah luyu mengekor Pay, memandangi punggung kekarnya.

Pay masuk ke kelas sejenak, ia menarik-narik kerah seragam Reza dan mendorongnya keluar kelas. Reza jatuh terhempas menghantam lantai, menyedot debu. Reza memegangi Diary itu, Pay berusaha merebutnya. “Mana?! Gue mau liat!”

Sekeras Pay, Reza tak mau menyerahkan buku itu. Ia melindungi Diary itu seperti memagari nyawanya, ia memeluk dan mengenggam benda itu erat dan dalam.

“Siniin gak?”

“Enggak!”

Pay menembakkan tinjunya ke wajah Reza. Kacamata Reza mengersik pecah dan tergeret ke lantai. Pay terus membentak garang, “Siniin gak?!”

Aku mendekat perlahan, mengerang hingga letih, “Udah Pay. Udah!”

Pay tak acuh. Boys will be boys. Siswa-siswi merapat menontoni pertujukan gila itu, hening dan menggumam. Dengan wajah yang sudah memar merah membiru, Reza menatapku, “Mi...gu..gue buat foto itu sebelum gue deket ma kamu...”

Pay menghantam Reza lagi dengan tinjunya, tetapi Reza tak enggan berhenti, “Gua bawa Diary ini ke sekolah buat ditunjukin ma lo... Gue...gue cuman mau minta maaf dan jujur ke elo kalo gue dah bi...bikin itu. Gue udah berubah semenjak gue kenal elo. Gue suka dan gue cinta elo...”

Mendengar kata ‘suka’ dan ‘cinta’, emosi Pay tak terbendung. Air ramah menjadi bencana. Kepalan kekar menghujani wajah Reza. Berdegup menubruk tulang. Bergeretak, tulang muka yang patah. Reza mengesup darah kental di hidungnya, ia tetap menggenggam Dairy di pelukan. Aku berlutut, menarik-narik lengan Pay yang tak berhenti berayun tak berlelah.

Pay menghisap nafas sebentar, matanya kalut. Tercium dari wajahnya bila ia hanya ingin menghabisi Reza dan tak akan ada yang bisa menghentikannya. Pay menggenggam tinju dan melepaskan pukulan yang lebih keras dari sebelumnya. Kepala Reza terjungkal, memantul menghantam lantai, sorot matanya padam tak sadarkan diri. Aku hanya bisa menangis, menangis, dan menjerit.

Aku menjerit, meneriaki Pay yang kalap itu, “Kamu udah gila! Kita putus!”

Pay tidak peduli, ia bangkit dan berjalan perlahan menyerahkan dirinya ke Satpam sekolah yang baru saja muncul.

***

Hanya satu hari setelah kejadian itu, Pay dikeluarkan dari sekolah. Drop Out. Kami tidak pernah berkomunikasi lagi. Lagipula aku sudah memutuskannya. Sementara Reza, ia berada di rumah sakit. Orang tuanya lebih memilih menyekolahkan anak mereka itu di sekolah yang bebas aksi bully. Aku sadar bahwa keputusan kecil bisa berdampak besar pada hidupku, hidup mereka dan hidup orang banyak.

Aku adalah kuncup bunga yang baru, ditemani kupu-kupu yang baru bermetamorfosis.

Sebulan setelahnya, aku tetap bersekolah di sana. Aku duduk taman sekolah sambil memandangi siswi-siswi berlatih basket. Berolahraga membuat pikiranku menjadi aktif dan aku move on seperti pesawat jet. Melupakan kejadian itu semudah menjentikkan jari. Aku duduk rileks ditemani Linda sambil bergantian mereguk Pocari Sweat.

“Gue gak pernah berterimakasih, lo udah banyak nolongin gue,” kataku. Linda menatapku dengan senyum kharismatisnya. Ia mengusap dahiku yang basah dan merapikan rambutku ke belakang telinga.

“Gak perlu, Say. Lo udah punya gue sekarang.”

Girl power. Linda sudah menyadarkan aku bahwa bukanlah cowok-cowok itu yang aku cari. Ia sudah menjeratku dalam permainannya. Her game, her rules. Linda sudah menyarankanku untuk memutuskan Pay, menyarankanku selingkuh hingga membuat kedua cowok malang itu saling menghabisi. Ia berhasil. Apakah campur tangannya itu hanya imajinasiku? Aku tidak tahu. Yang jelas aku sudah terkungkung dalam jebakannya. Jebakan cinta dan aku nyaman berada di dalam jebakan itu.

“Kamu udah berkorban banyak buatku Lin.” 

“Kamu udah ngelengkapin aku sekarang,” balas Linda sambil menggenggam tanganku. Jemari kami saling mengunci. Ucapannya membuatku melayang, aku tak bisa menahannya lagi. Satu kecupan untuk Linda membuatku menjadi istimewa lagi.

Aku sudah tahu tujuanku sekarang. Cinta itu harus memiliki. Bagaimana pun caranya, aku harus memiliki cinta itu. Apa aku egois? Not really.